MATERI DASAR Vertical RESCUE
MATERI DASAR RESCUE
SEARCH AND RESCUE
Search and rescue (SAR) adalah kegiatan dan usaha mencari, menolong, dan
menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau
menghadapi bahaya dalam musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan dan
bencana . Istilah SAR telah digunakan secara internasional tak heran jika sudah
sangat mendunia sehingga menjadi tidak asing bagi orang di belahan dunia
manapun tidak terkecuali di Indonesia.
Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di laut, hutan, gurun pasir, tapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR seharusnya dilakuan oleh personal yang memiliki ketrampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim penolongnya sendiri maupun korbannya. Operasi SAR dilaksanakan terhadap musibah penerbangan seperti pesawat jatuh, mendarat darurat dan lain-lain, sementara pada musibah pelayaran bila terjadi kapal tenggelam, terbakar, tabrakan, kandas dan lain-lain. Demikian juga terhadal adanya musibah lainnya seperti kebakaran, gedung runtuh, kecelakaan kereta api dan lain-lain.
Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di laut, hutan, gurun pasir, tapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR seharusnya dilakuan oleh personal yang memiliki ketrampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim penolongnya sendiri maupun korbannya. Operasi SAR dilaksanakan terhadap musibah penerbangan seperti pesawat jatuh, mendarat darurat dan lain-lain, sementara pada musibah pelayaran bila terjadi kapal tenggelam, terbakar, tabrakan, kandas dan lain-lain. Demikian juga terhadal adanya musibah lainnya seperti kebakaran, gedung runtuh, kecelakaan kereta api dan lain-lain.
Unsur-unsur SAR
Dalam kegiatan SAR ada 4 unsur yang bisa dijadikan penentu keterampilan
yang dibutuhkan sebagai penunjang suksesnya suatu tim sar dalam melakukan
operasinya, yaitu :
1. Lokasi : kemampuan untuk menentukan lokasi korban. Hal ini memerlukan
pengetahuan menangani data peristiwa, keadaan korban, keadaan medan dan
lainnya.
2. Mencapai : kemampuan untuk mencapai korban. Hal ii memerlukan
keterampilan mendaki gunung, rock climbing, cara hidup di alam bebas, peta,
kompas, membaca jejak, dan lainnya
3. Stabilisasi : kemampuan untuk menentramkan korban dalam hal ini mutlak
diperlukan pengetahuan P3K, gawat darurat dan lainnya.
4. Evakuasi : kemampuan membawa korban. Hal ini memerlukan keterampilan
seperti halnya “Mencapai”.
Tahapan SAR
Ada beberapa tahapan SAR, Yaitu :
1. tahapan keragu-raguan, sadar bahwa keadaan darurat telah terjadi.
2. tahapan kesiapan, melaksanakan segla sesuatunya sebagai tanggapan
terhadap suatu kecelakaan, termasuk juga menadpatkan segala informasi mengenai
korban.
3. tahapan perencanaan, pembuatan rencana yang efektif dan segala
koordinasi yang diperlukan
4. tahapan operasi, seluruh unit bertugas hingga misi SAR dinyatakan
selesai
5. tahapan laporan, terakhir membuat laporan mengenai misi SAR yang telah
dilaksanakan.
Pencarain pada perasi SAR
Berikut adalah beberapa pola teknis pencarian pada operasi SAR. Hanya
sebagain teknik yang dibahas di sini, yaitu :
1. Track (T)
• Pola ini dipakai jika
orang yang dinyatakan hilang dari jalur perjalanan yang direncanakan akan
dilewatinya merupakan satu-satunya informasi yang ada.
• Selalu dianggap bahwa
sasaran (korban) masih disekitar atau dekat dengan garis rute Pola Track
2. Paralel (P)
• Daerah pencarian cukup
luas dan medannya cukup datar
• Hanya mempunyai posisi
duga
• Sangat baik untuk
daerah pencarian yang berbetuk segi empat.
Pola Paralel
3. Creeping (C)
• Daerah pencarian
sempit, panjang dan kondisinya cukup rata serta datar.
• Kalau di pegunungan
gunung, regu pencari dengan ola ini kan turun Kejurang jurang atau dataran yang
lebih rendah.
Pola Creeping
4. Square (SQ)
• Biasanya digunakan
pada daerah yang datar
• Dengan pola ini
perhitungan posisi juga harus merupakan kemungkinan yang tepat
• Pembelokan tidak
sembarangan, tetapi dengan perhitungan.
Pola Square
5. Sector (S)
• Lokasi atau posisi
diketahui
• Daerah yang disari
tidak luas
• Daerah pencarian
berbentuk lingkaran
• Rute regu pencarian
berbentuk segitiga sama sisi
Pola Sector
6. Contour (CT)
• Digunakan di
bukit-bukit.
• Pencarian selalu
dimulai dari puncak tertinggi
7. Barrier (B)
• Digunakan dengan hanya
menunggu atau mencegat dengan perhitungan yang pasti bahwa survivor akan lewat
dengan melihat keadaaan lingkungan.
• Digunakan jika regu
pencari dan penyelamat tidak bisa mendekati tempat yang terkena musibah
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pola pencarian
Dari sekian banyak pola
pencarian, anda harus memilih yang paling tepat. Pemilihan tersebut dipengaruhi
oleh beberapa faktor berikut ;
• Ketepatan posisi
survivor
• Luas dan bentuk daerah
pencarian
• Jumlah dan jenis unit
rescue yang tersedia
• Cuaca di dan ke daerah
pencarian
• Jarak basecamp unit
rescue ke lokasi musibah
• Kemampuan peralatan
bantu navigasi di daerah kejadian
• Ukuran sukar dan
mudahnya sasaran yang diketahui
• Keefektifan taktik yang
dipilih
• Medan di daerah
kejadian
• Dukungan logistik ke
daerah pencarian
Taktik pencarian
Taktik pencarian dapat
bervariasi, tergantung pada situasi tertentu. Secara umum hal itu tercakup
dalam lima metode pencarian, yaitu :
1. Taktik pendahuluan
1. Taktik pendahuluan
Merupakan usaha-usaha
untuk mendapatkan informasi awal, mengoordinir reguregu pencari, membentuk pos
pengendali, perencanaan, pencarian awal, dsb
2. Taktik Pembatasan
Menciptakan, membentuk
garis lintas (perimeter) untuk mengurung korban dalam area pencarian
3. Taktik Pendeteksian
Pemeriksaan terhadap
tempat potensial dan juga menggunakan pencarian potensial. Pada area tersebut
diperhitungkan, ditemukannya korban ataupun jejak atau segala sesuatu yang
tercecer yang ditinggalkan korban
4. Taktik pelacakan
Melacak jejak atau
sesuatu yang ditinggalkan korban, biasanya pelacakan ini dilakukan dengan
anjing pelacak atau orang yang terlatih mencari dan membaca jejak
5. Taktik evakuasi
Memberikan perawatan dan
membawa korban untuk perawatan yang lebih lanjut jika diperlukan.
Vertical Rescue (1)
Vertical rescue merupakan
penyelamatan yang dilakukan untuk lokasi-lokasi yang berhubungan dengan
ketinggian dan kemampuan dalam formasi teknik. Dalam vertical rescue dibutuhkan
kemampuan pasukan yang sangat cekatan, memiliki kemampuan, baik dalam fisik
maupun psikologis. Anggota tim dalam vertical rescue diperlukan
keberanian baik dalam menangani korban maupun dengan masalah ketinggian.
Faktor umum dalam vertical rescue:
-Bakat dan pengetahuan
Dalam hal ini rescuer haruslah terbiasa
dengan ketinggian, kejasama tim yang baik dan memahami bagaimana merawat dan
menggunakan peralatannya. Ketakutan pada ketinggian merupakan faktor yang harus
di hilangkan, karena vertical rescue akan melakukan bayak hal
dengan lokasi yang berhubungan dengan ketinggian, adanya ketakutan pada
ketinggian akan mempersulit palaksanaan peyelamatan.
-Latihan dan pengalaman
Rescuer haruslah
memahami dan mampu melakukan segala basic penyelamatan dalam ketinggian.
Praktis dan cepat dalam melakukan tindakan penyelamatan.
-Terbiasa menggunakan peralatan
Rescuers haruslah
memahami penggunaan segala macam peralatan yang mendukung penyelamatan,
sensitif terhadap perubahan peralatan mengenai kemampuan dan perbedaan terkecil
sekalipun.Rescuer haruslah selalu melakukan pengecekan peralatan
baik sebelum, sesudah maupun dalam setiap penggunaannya.
-Disiplin dan kerjasama tim
Disiplin adalah hal paling penting bagi penyelamat.
Absensi rutin harus dilakukan untuk setiap kegiatan, setiap keputusan tim
leader haruslah diikuti semua anggota dan setiap operasi penyelamatan hendaknya
dilakukan dengan efektif dan efisies. Kerja sama tim harus memiliki standart
yang tinggi, setiap anggota rescue haruslan memiliki pengalaman, pelatihan,
keyakinan, kedisiplinan, dan mementingkan keamanan untuk kelompok dan dirinya
sendiri.
-Pendekatan dan taktik
Masalah penanganan penyelamatan, tim leader haruslah
mempertimbangkan setiap hal-hal yang ada: Menentukan tujuan, mempertimbangkan
beberapa faktor yang ada dan mungkin terjadi, mempertimbangkan setiap aksi yang
akan dilakukan, memproses perencanaan.
Komunikasi menjadi hal penting dalam vertical
rescue, antara rescuer haruslah selalu berkomunikasi
setiap saat dalam proses penyelamatan.
Vertical rescue adalah
keseluruhan faktor dengan skill yang tinggi, hasil dari kerjasama, disiplin dan
pelatihan. Keseimbangan psikologi dan fisiologi sangat penting sebelum operasi
penyelamatan dilakukan.
Keamanan
Keamanan menjadi bagian paling vital dalam setiap operasi
penyelamatan. Hal ini merupakan respon dari setiap penyelamat sebelum
melaksanakan penyelamatan, keamanan di pertimbangkan untuk menghindari resiko
yang dapat membahayakan korban dan rescuers.
*Mempertimbangkan keamanan.
Masalah keamanan dan memperkecil resiko yang mungkin
terjadi dalam vertical rescue dapat dilakukan dengan:
-Melaksanankan dengan tepat dan selalu melakukan
pelatihan.
-pemeliharaan peralatan secara standart.
-perhatian dan melakukan dengan cara yang telah terbiasa.
-mempertimbangkan dan melakukan pengamatan.
-melaksanakan perencanaan dan selalu berkomunikasi.
*Mengecek, mengawasi dan selalu waspada.
Keamanan merupakan hal yang selalu diutamakan dalam
kegiatan ini. Semuanya harus memperhatikan kondisi anchor, simpul-simpul, tali,
sistem pengaman. Seluruh tim haris tetap waspada dan keseluruhan pelaksaan
penyelamatan tetap dalam keamanan yang terjaga.
*Safety officer.
Safety officer hendaknya orang yang memiliki pengalaman
dalam berbagai kegiatan vertical rescuedan selalu mementingkan
semua hal yang berhubungan dengan keamanan.
*Pertimbangan dalam memilih personel.
Untuk menunjang selain keamanan dan pelatihan ada
beberapa faktor yang harus dipertimbangkan:
-kesehatan dan kesiapan fisik untuk melakukan
penyelamatan.
-terhindar dari ketakutan pada ketinggian/phobia.
-kemampuan bekerjasama dalam tim.
Vertical Rescue (2)
Perlengkapan Perorangan.
Dalam hal ini bagian keamanan dalam vertical
rescue:
-Helmet, memiliki
kasamaan dengan helm untuk caving maupun climbing. Dalam vertical
rescuehelmet yang di gunakan hendaknya memenuhi standart keamanan.
Berikut karakteristiknya:
-Sarung tangan, merupakan
bagian vital yang harus di perhatikan. Menggunakan sarung
tangan akan melindungi tangan dari gesekan dan kehilangan kontrol ketika
melaksanakan operasi penyelamatan.
-Sepatu, gunakanlah
sepatu yang dapat mencengkeram kuat, pas digunakan dan ringan serta nyaman
digunakan.
-Pakaian, penggunaan
yang pas dan nyaman bagi penggunanya, tidak terlalu sempit karena akan
berpengaruh terhadapa tenaga pengguna an tidak terlalu longgar karena dapat
mengganggu sistem peralatan yang digunakan dalam penyelamatan.
-Harness, semua kegiatan
yang berhubungan dengan ketinggian hendaknya menggunakan harness sebagai bagian
keamanan diri dan kelompok. Begitupun dalam pelaksanaan penyelamatan pada
ketinggian.
-Peluit, penggunaan
peluit sangat penting untuk keadaan genting. Hendaknya semua personal
menggunakan peluit sebagai bagian dalam personal equipment.
-Peralatan rescue perorangan,
-Pisau, penggunaan
pisau tajam pada situasi tertentu. Tempatkan pisau sebagai peralatan yang wajib
dibawa untuk setiap personal.
-Obat pertolongan pertama, tempatkan
perlengkapan ini sebagai perlengkapan yang wajib dibawa untuk
setiap personal.
NB:
Tidak diperkenankan berambut panjang, mengenakan cincin,
jam tangan, kalung, anting, gelang, sepatu yang memiliki bagian dengan bahan
besi maupun dengan asesoris bebentuk kail. Keamanan bagi rescuer maupun
korban sangat ditekankan di sini.
Menyeleksi Lokasi pelatihan
Pertimbangan keamanan hendaknya melaksanakan beberapa hal
berikut:
-Kondisi lingkungan yang ada(kesetabilan lokasi, keadaan
medan, ketajaman batuan, dll).
-Terdapat area aman untuk melakukan proses evakuasi.
-Area yang aman dengan tingkat ketinggiannya.
-Dapat dan mudah dijangkau.
-Dapat melakukan pertolongan pertama dan melaksanakan
evakuasi.
-Lokasi merupakan daerah yang sesuai dengan standart
pelatihan.
-Dapat dilaksanakan berbagai jenis komunikasi.
Komunikasi
Untuk memperlacar kegiatan, hendaknya setiap orang
mengetahui bagaimana menggunakan peralatan komunikasi yang ada dan mampu
melakukan komunikasi dengan baik untuk menghindari kesalahan yang mungkin
timbul.
Untuk situasi tertentu, tingkat kebisingan yang mungkin
ada akan mengganggu perjalanan proses, sehingga diperlukan sebuah peralatan
dengan sistem pengendali kebisingan.
Kekuatan Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam vertical rescue hendaknya
memiliki standart keamanan yang telah teruji dengan rekomendasinya. Setiap
personal hendaknya memahami tingkat kekuatan setiap detail item dan mengerti
bagaimana menggunakannya.
Setiap item akan menjadi satuan pada sistem penyelamatan
yang digunakan, hal ini mengharuskan setiap item memiliki kekuatan
standartnya.Keamanan akan diperlukan dalam penggunaan peralatan, baik mengenai
tingkat kemampuan peralatan, faktor keamanan, maupun keamanan setiap personal
dalam penggunaanya.
Final Pemeriksaan Keamanan
Setiap personal harus diperiksa oleh safety officer
sebelum melaksanakan proses evakuasi.
Pemeriksaan pada keseluruhan sistem yang digunakan,
sepeti anchor, tali, perlengkapan perorangan, dan juga mengenai prosedur
evakuasi maupun prosedur darurat lainnya.
Pemeriksaan final dilakukan sesuai dengan prosedur secara
teliti, dan juga pemeriksaan keamanan belayer.
Bagian Penting
Berikut petunjuk yang dianjurkan:
-Setiap kegiatan dengan ketinggian hendaknya menyukai
kehidupan, bukan ancaman.
-Setiap peralatan hendaknya di periksa, baik sebelum,
ketika ataupun setelah digunakan.
-Pada radius dua meter merupakan area aman, dan area ini
harus dibersihkan agar tidak ada gangguan dalam proses penyelamatan.
-Area aman harus segera dibuat untuk memudahkan pelaksanaan
pertolongan.
-Pelaksanaan penyelamatan dengan menyiapkan peralatan
untuk digunakan dengan petunjuk pemimpin kelompok, dan setiap bagian kelompok
menyiapkan peralatan sesuai dengan tugasnya sehinggan akan siap jika setiap
saat diperlukan.
-Anchor dipasang sesuai dengan sistem yang digunakan dan
dilakukan pemeriksaan setiap saat.
-Semua simpul dan gesekan tali diawasi secara ektra
ketika operasi penyelamatan dilakukan.
-Peralatan lain yang tidak digunakan segera disingkirkan
dari area penyelamatan agar tidak mengganggu.
-Hindari menduduki peralatan baik yang telah dipasang
maupun tidak. Perhatian lebih terhadap peralatan yang digunakan.
-Setiap tali yang bersinggungan dengan bagian lain yang
tajam harus diberi pelindung tali berupa edge roller ataupun padding.
-Gesekan antar tali harus dihindari, lakukan perbaikan
sistem jika hal tersebut terjadi.
-Kegiatan yang dilakukan pada tebing maupun ketinggian
lainya, dapat saja menjatuhkan sesuatu dari ketinggian, dan jika hal itu
terjadi maka untuk mengamankan orang lain di bawahnya, diharuskan bagi orang
yang menjatuhkan untuk berteriak, “Below!!”
-Jika yang dijatuhkan adalah tali, maka peringatan yang
diberikan adalah,”rope bolow!!”
-Penggunaan helm diwajibkan untuk menghindari benturan
kepala dengan benda lainnya.
-Semua perlatan yang dapat lepas maupun longgar hendaknya
dilakukan penguncian untuk menghindari kecelakaan lain.
-Gunakan sepatu yang pas pada kaki.
-Gunakan sarung tangan.
-Setiap personal harus membawa self –rescue
equipment
-Semua personal harus membawa peluit dan pisau.
Penyelamatan Pada Malam Hari
Vertical rescue juga
dapat dilaksanakan pada malam hari, peralatan yang harus disediakan antara
lain:
-helm lengkap dengan lampu perorangan
-lampu cadangan perorangan
-penggunaan lampu besar untuk menyinari area penyelamatan
-penggunaan lampu kimia untuk menandai peralatan ataupun
perorangan.
NB.
Penggunaan generator akan dapat mengganggu peralatan
elektronik yang biasa digunakan untuk komunikasi, menyebabkan kebisingan dan
menimbulkan asap yang dapat mengganggu penglihatan dan pernafasan karena
mengandung CO2.
Vertical Rescue (3)
Sesi ini membahas tentang rope/tali dalam vertical
rescue.
Rope
Rope/tali merupakan bagian terpenting dalam vertical
rescue, teli digunakan dengan menggabungkan berbagai peralatan lain untuk
memenuhi sebuah sistem peralatan untuk penyelamatan. Diharuskan untuk semua personel
dalam vertical rescue untuk mengetahui dan memahami tentang
tipe-tipe tali dan bahan yang digunakan untuk membuat tali. Serta dihruskan
memahami bagaimana memanagement tali dengan baik.
Tipe
Tipe tali yang digunakan dalam vertical rescue sebaiknya
dibuat dengan bahan sintetic fibre kernmantle, dimana bahan ini
merupakan bahan terbaik dari segala bahan yang digunakan untuk pembuatan tali.
Rope history card
Dengan adanya rope history card, kita dapat mengetahui
sejauh mana kemampuan tali untuk dapat digunakan menahan beban. Rope history
card dibuat untuk mengetahui kepastian umur tali dan kapasitas penggunaan,
perkembangan tali setiap saat dapat diawasi dengan baik.
Berikut contoh rope history card yang
dimaksud:
Rope
history card
Rope type :
static
Size :
50X11mm No: 2
Date acuired :
7-6-2009
Source : rayase outdoor centre
|
Bahan Tali
Tali dengan Bahan Nylon(polyamid)
Sebenarnya dalam pemakaian tali pada vertical rescue,
tali uyang digunakan adalah nylon 6 atau nylon 6.6.
_keunggulan: untuk polyamid
dengan kelebihan polyester(terylene) dan campuran lainnya:
-Nylon 10%lebih kuat dari pada polyester.
-merupakan bahan yang lebih unggul dan mudah menyerap
air.
-nylon 6.6 mampu menahan panas hingga 260 derajat
celcius.
_kelemahan: kelemahan
nylon/polyamid adalah:
-kekuatan tali dapat hilang 15% ketika kondisi tali basah
-terlalu mudah terkontaminasi zat asam
Kernmatle
Kernmantle lahir dari jerman dengan, kern: core dan
mantle: sheat
Dilihat cara pembuatannya, kernmantle sesuai dengan arti
yang dikandungnya, yaitu tali yang melindung tali dibagian tengahnya.
Kernmantle dibagi menjadi dua, static dan dinamic:
_Tali Kernmantle static
-kelenturan: tali kernmantle static memiliki kemuluran
yang rendah, hanya 3% hingga 20% persen kemuluran dialami ketika tali dibebani
tubuh seseorang.
-elastisitas: tali kernmantle static memiliki elastisitas
tinggi, tali kernmantle static dapat mennyesuaikan diri dengan berbagai
penggunaan seperti pada tali lainnya.
-kekuatan dan kemudahan penggunaan: tali kernmantle
static memiliki kekuatan paling besar dibanding jenis tali lainnya, tetapi
untuk kemudahan penggunaan, tali kernmantle static lebih kaku di bandinf tali
lainnya.
-keunggulan tali kernmantle static: tidak mudah mulur,
tidak mudah lecet, anti debu dan anti kotor, memiliki kekuatan yang besar.
-kelemahan tali kernmantle static: terlalu mudah menyerap
dan sulit untuk dibuat jenis-janis simpul.
_Tali kernmantle dynamic
-elastisitas:tali kernmantle dynamic sangat mudah
digunakan untuk membuat berbagai jenis simpul
-kelenturan: tali kernmantle dynamic memiliki kemuluran
yang lebih tinggi, sehingga sangat cocok untuk menahan jatuhnya pemanjat dengan
hentakan yang tidak terlalu keras pada tali.
-kekuatan: tali kernmantle dynamic memiliki pelindung
yang lebih tipis sehinggan tali kernmantle dynamic memiliki kekuatan yang
cukup.
-keuntungan: tali kernmantle dynamic adalah tali terbaik
untuk menahan seseorang ketika jatuh karena memiliki kelenturan yang tinggi.
-kekurangan: tali kernmantle dynamic memiliki kemuluran
yang terlalu tinggi, sehingga untuk penggunaan dalam vertical rescue kurang
tepat karena akan menemui kendala pada penggunaan descending, ascending, maupun
hauling.
NB: jangan menggunakan tali kernmantle dynamic untuk
keperluan vertical rescue!
Ciri-ciri Rescue rope:
-minimal diameter adalah 11mm.
-dibuat dengan tipe static.
-mampu menahan beban minimal 3000kg.
-100% berbahan polyamid/nylon.
-memiliki lapisan pelindung.
-mudah digunakan dan mudah untuk pembuatan simpul-simpul.
-kemuluran tali maksimal 3% untuk tarikan 80kg.
-minimum 20% kemuluran tali untuk tarikan 3000kg.
-mampu beradaptasi denga suhu untuk keperluan
operasional.
-warna kontras antara bagian tengan dengan bagian
pembungkus.
Pemeliharaan
Berikut hal yang harus diperhatikan:
-jangan memotong tali kecuali memang harus dilakukan.
keperluan pemotongan tali diperbolehkan jika tidak membuat tali menjadi lebih
buruk.seperti pemotongan pada ujung tali karena penggunaan simpul delapan yang
terkunci atau tidak dapat terlepas karena penggunaan lem perekat.
-jangan biarkan penggunaan simpul yang dapat membuat
kekuatan tali menjadi lemah.
-pergunakanlah simpul-simpul yang benar, karena kesalahan
simpul akan membuat tali anda rusak.
-pergunakan pulley dengan ukuran yang pas, ukuran pulley
yang terlalu kecil akan merusak tali anda.
-hindari hentakan mendadak pada tali anda.
-hindari menduduki/berjalan/menginjak tali, karena dapat
membuat debu masuk pada tali anda.
-hindari tali bersentuhan dengan dataran atau bagian
sudut yang kasar, jika hal itu terjadi lingdungi tali anda.
-bersihkan tali dari noda, debu ataupun pasir setelah
penggunaan. Dengan mencuci tali dengan air bersih, air mengalir ataupun cara
lain yang di anjurkan.
-jangan mengeringkan tali dekat api, atau dengan pemanas
lainnya, letakkan pada tali yang melintang, hindari lantai yang dingin dan
letakkan pada area terbuka untuk mendapatkan sirkulasi yang baik.
-simpan tali anda pada tempat terlindung yang netral,
jauh dari kontak langsung lantai, seperti pada sebuah lemari yang terhindar
dari bahan-bahan yang dapat mengkontaminasi tali, hindari embun, kelembaban,
debu, binatang pengerat ataupun benda tajam.
-kerusakan atau lecet pada tali harus segera ditandai dan
lakukan perbaikan segera. Detail penggunaan tali harus jelas terisi pada history
record card.
-jangan membuat tali anda terjemur sinar
matahari langsung terlalu lama, karena radiasi dari sinar ultraviolet dapat
membuat tali anda rusak, lindungi dengan kain terpal/ material lain.
-pastikan tali anda tidak terkena bahan-bahan kimia/
bahan kontaminasi lainnya seperti minyak semir, oli, bensin, hydrolic fluid,
acids dan alkalis.
Pencucian Tali
Berikut penjelasannya:
-tali harus dicuci jika terkena kotoran/debu, karena debu
dapat merusak tali ketika tali dipergunakan untuk peralatan ascent.tali dapat
di rangkai menyerupai rantai untuk menghindari kusut.
-polyamid rope dapat dicuci pada mesin cuci, tetapi set
mesin untuk berputar dengan lembut, dapat dengan air dingin atau hangat tetapi
dilatang untuk mnyetel mesin dengan air panas. Jangan menggunakan bahan-pencuci
lain seperti sabun, pelembut ataupun bahan lain. Untuk lebih jelasnya, anda
dapat melihatnya lagi pada petunjuk pencucian rekomendasi tali anda.
-tali dapat di cuci dengan cara di tarik perlahan
menggunakan descender untuk memeras air yang terkandung.
Memeriksa tali
Segala tali harus diperiksa sebelum, ketika dan sesudah
pemakaian. Pemeriksaan dilakukan secara cara kasat mata dan dengan cara
dirasakan.
Cara kasat mata: berikut
pemeriksaan secara kasat mata:
-perbadaan warna; jika terjadi perbedaan warna pada warna
asli tali pelindung hal ini dapat disebabkan karena terjadi kontaminasi zat
lain.
-pudar; warna pudar dapat merupakan awal kehancuran tali.
-warna putih; warna putih pada pelindung secara tidak
wajar merupakan kerusakan yang terjadi dengan menonjolnya bagian dalam.
-ukuran yang tidak sama pada beberapa bagian; terjadi
kerusakan karena penggunaan peralatan atau perlakuan yang tidak tepat pada tali,
terjadi bentukan yang berbeda dan diameter tali tidak rata.
-lecet; lecet terjadi karena pergesekan atau tali terkena
pada sudut suatu tempat yang tajam.
-kaku; terjadi karena penggunaan simpul yang tidak tepat
dan ini mengindikasikan tali akan rusak secara perlahan.
Cara dirasakan: berikut
pemeriksaan dengan cara dirasakan:
-kaku pada pelindung; terjadi karen beban berlebih atau
karena kontaminasi.
-perubahan pada diameter; perubahan terjadi akan
menyebabkan kerusakan pada tali.
-kontaminasi; dapat dikarenakan kotoran, debu atau benda
lain.
NB: tes pemberian beban pada tali tidak dianjurkan untuk
latihan.
Vertical Rescue (4)
Menghentikan Penggunaan Tali
Ini masalah penting dalam mengambil keputusan masalah
tali, akan dihancurkan atau akan dibenahi. Jika keputusan untuk di perbaiki
yang dipilih, maka kedepannya pengawasan dan pengecekan rutin harus dilakukan,
pengecekan akan dilakukan oleh savety officer.
Beberapa hal yang harus di perhatikan untuk mengamnbil
keputusan masalah penggunaan tali:
-lecet, ini adalah aturan umum. Jika dibiarkan terus
menerus akan membuat tali dapat putus, apabila lecet tali yang ada lebih dari
25% dari diameter tali, jangan digunakan!
-beban, ketika diketahui bahwa tali memiliki perbedaan
masalah kelenturan tudak wajar, atau tali mengalami kemuluran berlebih karena
beban yang ada.
-kontaminasi, jika tali terkena kontaminasi, maka tali
memiliki indikasi untuk rusak secara perlahan.
-diameter, tali dengan diameter tidak seimbang dan tidak
wajat, maka tali melangkah pada kerusakan.
-mengembangnya isi tali, jika tali putih pada tali
terlihat karena menonjol.
Identifikasi.
Sistem pengidentifikasian untuk penghentian penggunaan
tali di lihat dari catatan yang ada pada rope history card.
Tingkat kekuatan dan keamanan besaran beban untuk
tali.
Berikut tingkatan tali (khusus untuk tali sintetic fibre
rescue), mengenai kekuatan dan keamanan tingkat beban berdasarkan standart
Australia.
Mengemas/meringkas tali
Mengemas tali agar ringkas dan mudah dibawa adalah salah
satu dasar dalam vertical rescue. Berikut beberapa teknik pengemasan yang
dapat diketahui:
-colling/cara biasa, tali
dengan panjang 50meter dapat digulung dengan sangat cepat dan diakhiri
dengan sebuah ikatan.
-hanking/ menggulung, ini efektif
untuk tali dengan panjang 50 meter atau dengan panjang sedang dapat lebih
efektif untuk penggunaan double rope. Kumpulkan tali diawali dengan dua
meter atau panjang lengan penuh anda. Selanjutnya anda dapat melanjutkan
dua meter dua meter selanjutnya.
-chaining/rantaian, ini merupakan teknik
untuk memperlakukan tali tanpa mempertimbangkan panjang tertentu. Membuat
tali lebih ringkas untuk tujuan pengemasan tali. Chaining biasa di lakukan
untuk pencucian tali pada mesin cuci ataupun untuk operasional pengemasan. Chaining
dapat dilakukan terhadap tali single ataupun double, dan dilakukan pengulangan
dengan cara yang sama.
-stuff sack , ini merupakan metode yang
digunakan untuk penyimpanan dan pengangkutan untuk semua tali, tetapi
khusus untuk tali dengan ukuran panjang. Dengan memasukkan tali kedalam kantung
sederhana atau pengemasan dengan cara diikat untuk memudahkan
pengangkutan ke suatu tempat.
Pengangkutan tali.
Kantung tali akan lebih efektif jika kantung dengan besar
pas dengan tali. Pengangkutan tali dengan
Tehnik pengikatan hanked maupun colling dapat dilihat
pada gambar berikut. Chained rope dapat diangkut dengan kantung atau di
letakkan pada bahu.
Tali pengikat
Kernmantel dengan diameter kurang dari 9mm biasa
digunakan sebagai tali pengikat dan hal ini umum digunakan dalam
penggunaan konstruksi tali static. Ikatan yang kuat akan mempengaruhi kekuatan
sistem yang dibuat.
Bagaimanapun urutan perkiraan kekuatan tali biasanya
dilihat dari ukuran seperti berikut:
-Diameter 6 mm, kekuatan 700-750kg
-Diameter 7 mm, kekuatan 1000-1200kg
-Diameter 8mm, kekuatan 1200-1500kg
Data di atas merupakan pengikatan yang digunakan
dalam vertical rescue yang digunakan seperti pada tali prusik, tali pengaman
belay, kunci edge roller ataupun pada mat guy line/pengesat kaki.
Perlindungan
Penyebab kerusakan tali, penaggulangan dan
perlindungannya:
Tubrukan, terjadi
karena kejatuhan batu tepat pada tali, khusus untuk beban yang berlebih, hal
ini dapat menyebabkan kerusakan yang serius. Hal yang perlu diperhatikan secara
sungguh-sungguh untuk melindungi tali anda dari serangan seperti ini. jika
terjadi kerusakan perbaiki atau pensiunkan tali anda, hal pertama yang dapat
anda lakukan adalah memeriksanya dengan teliti.
Benda kasar/tajam, dalam berbagai
kasus, hal seperti ini menyebabkan tali anda lecet, hal ini terjadi karena
kurangnya kehati-hatian dalam menggunakan tali. Pencegahan dapat dilakukan
dengan memberi pelindung pada sudut yang tajam dan gunakanlah peralatan
ascent yang pas dengan diameter tali anda.
MANTAP
BalasHapus